Nonton Film Like and Share dan Isu Sosial yang Diangkat

Nonton Film Like and Share dan Isu Sosial yang Diangkat

Smallest Font
Largest Font

Di tengah gempuran konten hiburan yang sering kali hanya mengejar viralitas, nonton film Like and Share menjadi sebuah pengalaman sinematik yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia saat ini. Disutradarai oleh Gina S. Noer, film ini tidak hanya menawarkan estetika visual yang memanjakan mata, tetapi juga berani menyentuh isu-isu sensitif yang sering dianggap tabu namun sangat nyata terjadi di sekitar kita. Film ini menjadi cermin bagi generasi digital yang terjebak di antara keinginan untuk diakui dan kerentanan yang mengintai di balik layar ponsel.

Pengalaman menonton film ini akan membawa audiens masuk ke dalam dunia remaja yang penuh warna namun menyimpan sisi gelap yang mencekam. Sebagai penonton, kita diajak untuk melihat bagaimana teknologi, yang seharusnya menjadi alat pemberdayaan, justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkan masa depan seseorang jika tidak disikapi dengan bijak. Pentingnya edukasi mengenai konsensus dan keamanan digital menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui narasi yang kuat dan karakter yang multidimensi.

Aurora Ribero dalam salah satu adegan emosional di film Like and Share
Aurora Ribero memerankan karakter Lisa dengan penuh kedalaman emosi.

Sinopsis Lengkap Film Like and Share

Film Like and Share berfokus pada kisah dua remaja perempuan, Lisa (diperankan oleh Aurora Ribero) dan Sarah (diperankan oleh Arawinda Kirana). Keduanya adalah sahabat karib yang memiliki kanal YouTube bertema ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response). Hubungan mereka sangat erat, saling mendukung satu sama lain di tengah hiruk-pikuk kehidupan sekolah dan tuntutan keluarga yang terkadang menyesakkan. Mereka menemukan kebahagiaan dalam menciptakan konten-konten unik yang mereka harapkan bisa mendulang banyak pengikut.

Namun, konflik mulai muncul ketika Lisa terobsesi dengan pornografi internet yang membuatnya mulai menjauh dari realitas. Di sisi lain, Sarah menghadapi trauma mendalam akibat kekerasan seksual yang dialaminya. Film ini dengan berani menggambarkan bagaimana kedua remaja ini berjuang menghadapi konsekuensi dari dunia digital yang mereka masuki tanpa panduan yang cukup. Narasi yang dibangun tidak hanya berfokus pada penderitaan, tetapi juga pada proses pemulihan dan kekuatan persahabatan dalam menghadapi badai kehidupan yang luar biasa hebat.

Eksplorasi Karakter Lisa dan Sarah

Lisa digambarkan sebagai remaja yang penuh rasa ingin tahu namun kurang mendapatkan bimbingan yang tepat di rumah. Hubungannya dengan kakaknya yang dominan menciptakan ruang kosong dalam dirinya yang kemudian ia isi dengan konsumsi konten digital yang tidak sehat. Pencarian identitas Lisa adalah representasi dari banyak remaja saat ini yang terjebak dalam arus informasi tanpa filter.

Sementara itu, karakter Sarah memberikan perspektif tentang bagaimana seorang penyintas kekerasan seksual mencoba untuk tetap tegak berdiri. Melalui Sarah, penonton diajak untuk memahami kompleksitas trauma dan betapa sulitnya mencari keadilan di tengah stigma masyarakat yang sering kali justru menyalahkan korban. Chemistry antara Aurora Ribero dan Arawinda Kirana memberikan nyawa pada film ini, membuat setiap konflik terasa begitu nyata dan mengiris hati.

Detail Produksi dan Spesifikasi Film

Dibalik kualitas narasinya yang luar biasa, film Like and Share didukung oleh tim produksi yang sangat kompeten. Gina S. Noer, yang sebelumnya sukses dengan 'Dua Garis Biru', kembali menunjukkan taringnya sebagai penulis skenario dan sutradara yang peka terhadap isu-isu sosial remaja. Film ini diproduksi oleh Starvision Plus bekerja sama dengan Wahana Kreator, menjamin kualitas produksi standar internasional.

AspekKeterangan
SutradaraGina S. Noer
Pemeran UtamaAurora Ribero, Arawinda Kirana, Jerome Kurnia
Durasi112 Menit
GenreDrama, Coming-of-Age
Rating Usia17+ (Dewasa)
Platform LegalDisney+ Hotstar, Netflix (Wilayah Tertentu)

Penggunaan teknik sinematografi yang menggunakan warna-warna neon dan pastel memberikan kontras yang menarik dengan tema gelap yang diusung. Selain itu, elemen ASMR yang dimasukkan dalam film ini bukan sekadar pemanis, melainkan alat naratif yang efektif untuk menunjukkan sisi intim sekaligus rentan dari para karakternya. Suara-suara bisikan, ketukan, dan suara lingkungan sekitar diolah sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman audio-visual yang imersif bagi mereka yang memutuskan untuk nonton film Like and Share di platform resmi.

Gina S. Noer saat proses pengarahan film Like and Share
Gina S. Noer kembali menghadirkan karya yang provokatif dan edukatif.

Salah satu alasan mengapa kita harus memilih platform legal saat ingin menyaksikan film ini adalah sebagai bentuk dukungan terhadap industri kreatif Indonesia. Menonton melalui situs ilegal atau bajakan tidak hanya merugikan para kreator yang telah bekerja keras, tetapi juga membahayakan keamanan perangkat Anda dari serangan malware dan phising. Selain itu, kualitas gambar dan suara pada platform resmi seperti Disney+ Hotstar jauh lebih unggul dibandingkan situs bajakan.

"Sinema adalah alat untuk memanusiakan manusia. Dengan menonton karya yang jujur, kita belajar untuk berempati pada luka yang mungkin tidak pernah kita rasakan sendiri."

Film ini mengandung konten yang cukup berat, termasuk penggambaran kekerasan seksual dan perilaku seksual yang tidak sehat. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi penonton untuk memperhatikan rating usia 17+. Bagi orang tua, film ini bisa menjadi bahan diskusi yang sangat baik dengan anak remaja mereka, asalkan didampingi dan diberikan penjelasan yang tepat mengenai batasan-batasan dalam dunia digital.

Isu Kesehatan Mental dan Kekerasan Seksual

Like and Share tidak ragu-ragu dalam membedah bagaimana trauma bekerja. Penonton akan melihat bagaimana Sarah mencoba untuk pulih dari kejadian traumatis yang dialaminya, sementara sistem hukum dan lingkungan sosial seolah tidak memberikan ruang aman baginya. Ini adalah kritik keras terhadap sistem yang sering kali gagal melindungi korban kekerasan seksual. Film ini menuntut kita untuk tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga mulai sadar akan pentingnya menciptakan ruang yang aman bagi siapa pun.

Selain kekerasan fisik, film ini juga menyoroti kekerasan psikologis dan eksploitasi di dunia maya. Bagaimana sebuah video atau foto bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam sekejap adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi di era 'Like and Share' ini. Keinginan untuk mendapatkan validasi berupa jumlah 'likes' dan 'shares' sering kali membuat orang lupa akan privasi dan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Poster resmi film Like and Share dengan komposisi warna yang artistik
Visual film yang artistik menyembunyikan realitas pahit yang dihadapi karakternya.

Refleksi Mendalam bagi Penonton Kontemporer

Setelah selesai menyaksikan film ini, banyak penonton yang merasa 'terpukul' namun tersadar. Film ini bukan tipe film yang memberikan akhir bahagia yang klise, melainkan memberikan akhir yang jujur dan memberikan harapan kecil melalui solidaritas antar sesama perempuan. Kekuatan dari film ini terletak pada kemampuannya untuk memicu percakapan di ruang publik mengenai hal-hal yang selama ini sering disembunyikan di bawah karpet.

  • Pentingnya memahami persetujuan (consent) dalam hubungan apa pun.
  • Bahaya konsumsi konten pornografi yang tidak terkontrol pada perkembangan otak remaja.
  • Peran keluarga dalam memberikan ruang dialog yang terbuka mengenai seksualitas.
  • Dampak jangka panjang dari cyberbullying dan penyebaran konten intim tanpa izin.

Secara keseluruhan, karya Gina S. Noer ini adalah sebuah pencapaian besar dalam sinema Indonesia. Ia berhasil menggabungkan estetika modern dengan narasi yang sangat membumi dan relevan. Bagi Anda yang belum sempat menyaksikannya, sangat direkomendasikan untuk segera meluangkan waktu guna nonton film Like and Share secara legal di platform yang tersedia.

Alasan Mengapa Film Ini Menjadi Refleksi Penting Bagi Kita

Pada akhirnya, Like and Share bukan sekadar film tentang remaja yang bermain media sosial. Ia adalah sebuah gugatan terhadap ketidakadilan gender, lemahnya perlindungan hukum bagi korban kekerasan, dan kegagapan kita dalam menghadapi percepatan teknologi informasi. Film ini memberikan vonis akhir bahwa diam bukanlah pilihan saat kita melihat ketidakadilan terjadi di depan mata, baik di dunia nyata maupun di jagat maya.

Sangat direkomendasikan bagi setiap orang dewasa, pendidik, dan pembuat kebijakan untuk menyaksikan film ini guna memahami dinamika yang dihadapi generasi muda saat ini. Langkah ke depan yang paling krusial adalah membangun ekosistem digital yang lebih sehat dan mendukung pemulihan para penyintas daripada terus menyudutkan mereka. Jangan melewatkan kesempatan untuk nonton film Like and Share karena ini adalah salah satu karya terbaik yang akan membuat Anda berpikir ulang tentang setiap klik yang Anda lakukan di layar ponsel.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow